Sabtu, 30 April 2016
Senin, 25 April 2016
seminar akuntansi SMK SEBAGAI PILIHAN KEDUA
SEMINAR
EKONOMI AKUNTANSI
SMK
SEBAGAI SOLUSI PILIHAN KEDUA YANG MENJANJIKAN MASA DEPAN

Oleh
:
Lia Rizky Nursiaputri A210130149
Alysha Nabilla Riyadi A210130152
Lia Rizky Nursiaputri A210130149
Alysha Nabilla Riyadi A210130152
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akhir-akhir ini para siswa SMP sudah mengikuti Ujian
Nasional dan mereka yang dinyatakan lulus, disibukan untuk mencari sekolah
kejenjang selanjutnya.Untuk mencari sekolah, orang tua ikut andil dalam
menentukan pendidikan selanjutnya.Sekarang ini banyak sekali tawaran
sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta.Di setiap sekolah tersebut mempunyai
tujuan yang berbeda-beda baik SMA maupun SMK. SMA bertujuan menyediakan dan
menyiapkan para siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi
sedangkan SMK menyediakan tenaga kerja tingkat menengah.
Penyelenggaraan pendidikan bukan semata-mata menjadi
tanggungjawab pemerintah dan sekolah.Peranserta masyarakat (stakeholder)
memiliki peranan penting dalam mewujudkan penyelenggaraan pendidikan.
Masyarakat dapat berperan dalam penetapan kebijakan pemerintah dalam bidang
pendidikan, pengembangan kurikulum terutama kualitas kurikulum yang sesuai
dengan tuntutan yang diharapkan masyarakat, dan penyaluran lulusan yang
dihasilkan dari proses penyelenggaraan pendidikan.
Selama ini, masih terkesan bahwa masyarakat masih belum
menyadari perannya dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan di
Indonesia.Setiap hasil kebijakan dan perubahan kurikulum yang dihasilkan dari
pemerintah selalu menjadi polemik bahkan terjadi kontra produktif.Kondisi yang
demikian kurang efektif dalam penyelenggaraan pendidikan.
Peranserta masyarakat, terutama dunia usaha dan industri, sangat terasa masih kurang optimal perannya dalam rangka penyelenggaraan pendidikan kejuruan.Kelemahan peranserta masyarakat tersebut nampak ketika pengembangan dan evaluasi kurikulum pendidikan kejuruan serta penyaluran lulusan. Penerapan pendekatan supply driven menjadi demand driven pada pendidikan kejuruan (SMK) masih belum memperoleh tanggapan positif dari masyarakat. Padahal, sistem demand driven dirancang yang dipicu kebutuhan pasar kerja, karena pada dasarnya program pendidikan kejuruan berorientasi kebutuhan nyata pasar kerja. Dengan demikian, peran aktif dunia usaha dan industri dalam penyelenggaraan pendidikan kejuruan sangat diperlukan. SMK, yang dulu dipandang sebelah mata.Sekarang gencar mempromosikan keberadaan SMK.Tidak sedikit iklan ditayangkan, baik lewat media cetak maupun elektronik, dengan menampilkan tokoh-tokoh sukses lulusan SMK.Tak pelak lagi, SMK pun naik daun.Animo lulusan SMP / MTs untuk melanjutkan ke sekolah kejuruan kian hari kian meningkat.
Peranserta masyarakat, terutama dunia usaha dan industri, sangat terasa masih kurang optimal perannya dalam rangka penyelenggaraan pendidikan kejuruan.Kelemahan peranserta masyarakat tersebut nampak ketika pengembangan dan evaluasi kurikulum pendidikan kejuruan serta penyaluran lulusan. Penerapan pendekatan supply driven menjadi demand driven pada pendidikan kejuruan (SMK) masih belum memperoleh tanggapan positif dari masyarakat. Padahal, sistem demand driven dirancang yang dipicu kebutuhan pasar kerja, karena pada dasarnya program pendidikan kejuruan berorientasi kebutuhan nyata pasar kerja. Dengan demikian, peran aktif dunia usaha dan industri dalam penyelenggaraan pendidikan kejuruan sangat diperlukan. SMK, yang dulu dipandang sebelah mata.Sekarang gencar mempromosikan keberadaan SMK.Tidak sedikit iklan ditayangkan, baik lewat media cetak maupun elektronik, dengan menampilkan tokoh-tokoh sukses lulusan SMK.Tak pelak lagi, SMK pun naik daun.Animo lulusan SMP / MTs untuk melanjutkan ke sekolah kejuruan kian hari kian meningkat.
Ketika sekian banyak SMA swasta sepi peminat, SMK yang
dahulu oleh sebagian masyarakat disebut sebagai sekolah pinggiran, tak pernah
kekurangan peminat.SMK kini bukan lagi lembaga pendidikan kelas kedua,
melainkan menjadi pilihan pertama bagi sebagian kalangan. Pandangan anak SMK
sebagai jago tawur atau sekolah sebagai SMK ‘ndesit’, lambat laun
terkikis.Tentu saja semua itu tercapai bukan karena promosi semata, melainkan
lebih karena prestasi nyata. Fasilitasi yang diberikan pemerintah, dari
penyediaan sarana-prasarana, guru, hingga pembinaan lainnya, terbukti mendorong
civitas academika SMK untuk menunjukkan kelasnya.Oleh karena itu, pemerintah
mengambil kebijakan untuk menambah jumlah SMK daripada mengembangkan
SMA.Komposisi perbandingan yang dibuat adalah 70% SMK dan 30% SMA. Ini tentu
dengan tujuan untuk menjadikan lulusan sekolah menengah yang siap kerja dan
mandiri.
B.
Perumusan Masalah
1.
Apakah
penyebab SMK menjadi second choice di masyarakat?
2.
Bagaimana
pandangan pemerintah dan masyarakat tentang SMK?
3.
Bagaimana
masyarakat dapat menjadikan SMK menjadi first choice?
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pendidikan Kejuruan
Pendidikan Kejuruan menurut Rupert
Evans (1978) dalam Muslim yaitu bagian dari system pendidikan yang
mempersiapkan seseorang agar lebih mampu bekerja pada sustu kelompok pekerjaan
atau satu bidang pekerjaan daripada bidang pekerjaan lainnya.Sedangkan menurut
Undang-undang No. 2 tentang system pendidikan nasional yaitu pendidikan
kejuruan merupakan pendidikan yang mempersuiapkan peserta didik untuk dapat
bekerja dalam bidang tertentu.Pereturan pemerintah No. 29 Tahun 2009 tentang
pendidikan menegah yaitu pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan
kemampuan siswa untuk pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu.
Pendidikan kejuruan adalah pendidikan
yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu.
Menurut Snedden, (1917:8) dalam mengungkapkan bahwa pendidikan kejuruan adalah
pendidikan yang diarahkan untuk mempelajari bidang khusus, agar para lulusan
memiliki keahlian tertentu seperti bisnis, pabrikasi, pertanian,
kerumahtanggaan, otomotif telekominikasi, listrik, bangunan dan sebagainya.
B.
Tujuan pendidikan kejuruan
Rupert Evans (1978) dalam
pendidikan_ kejuruan_di_indonesia.pdf Merumuskan pendidikan kejuruan bertujuan
untuk:
1. Memenuhi kebutuhan masyarakat akan
tenaga kerja.
2. Meningkatkan pilihan pendidikan bagi
setiap individu.
3. Mendorong motivasi untuk belajar terus.
C. Fungsi
pendidikan kejuruan
Ada beberapa fungsi pendidikan
kejuruan yaitu:
1. Menyiapkan siswa menjadi manusia
Indonesia seutuhnya yang mampu meningkatkan kualitas hidup, mampu mengembangkan
dirinya, dan memiliki keahlian dan keberanian membuka pelunag meningkatkan
penghasilan.
2. Menyiapkan siswa menjadi tenaga
kerja produktif:
a. Memenuhi keperluan tenaga kerja
dunia usaha dan industry.
b. Menciptakan lapangan kerja bagi
dirinya dan bagi orang lain.
c. Merubah status siswa dari
ketergantungan menjadi bangsa yang berpenghasilan (produktif).
3. Menyiapkan siswa menguasai IPTEK,
sehingga:
a. Mampu mengikuti, mengusai, dan menyesuaikan
diri dengan kemajuan IPTEK.
b. Memiliki kemampuan dasar untuk dapat
mengembangkan diri secara berkelanjutan.
D. Penyebab
SMK menjadi second choice yaitu :
Ketidakmampuan alumni-alumni SMK
dalam masyarakat untuk menempati posisi-posisi strategis yang akhirnya
membentuk image bahwa sekolah di SMK itu tidak menjanjikan.
Kekurangmampuan dan/atau ketidakmauan kita menkomunikasikan keberadaan SMK tersebut kepada masayarakat. Sudah image-nya kurang bagus, ditambah lagi dengan keengganan kita, terutama SMK milik pemerintah, untuk mengekspos berbagai kelebihan yang dimilikinya, maka kita tidak bisa berharap banyak masyarakat akan mengubah mindsetnya tentang SMK.
Kekurangmampuan dan/atau ketidakmauan kita menkomunikasikan keberadaan SMK tersebut kepada masayarakat. Sudah image-nya kurang bagus, ditambah lagi dengan keengganan kita, terutama SMK milik pemerintah, untuk mengekspos berbagai kelebihan yang dimilikinya, maka kita tidak bisa berharap banyak masyarakat akan mengubah mindsetnya tentang SMK.
E.
Pandangan pemerintah dan masyarakat
tentang SMK
1. Pandangan Pemerintah tentang SMK
Pertumbuhan jumlah SMK sudah
direncanakan sejak tahun 2008. Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono dalam Rembug Pendidikan Nasional (RPN) pada Februari 2008
tentang penuyeimbangan jumlah siswa SMK:SMA. Untuk menjadikan rasiso jumlah
siswa SMK:SMA adalah 67:33 pada tahun 2014. Kebijakan itu dimaksudkan untuk
mempercepat pertumbuhan Sumber Daya Manusia (SDM) tingkat menengah yang siap
kerja, cerdas, dan kompetitif yang pada akhirnya akan mendukung pertumbuhan
ekonomi Indonesia. Mendiknas mengemukakan, pengembangan SMK harus dipercepat,
mengingat saat ini rasio SMA:SMK adalah 70:30. Bila perlu pemerintah daerah
mengambil langkah untuk mengubah SMA menjadi SMK. Perkembangan minat siswa SMP
untuk melanjutkan ke SMK mulai mengalami perkembangan, dengan jumlah siswa SMK
yang semakin bertambah.Dan ini tidak terlepas dari program-program kerja dari
pemerintah pada umumnya dan Direktorat Pembinaan SMK pada khususnya.
2. Pandangan Masyarakat tentang SMK
Masyarakat pada umumnya masih
memposisikan sekolah-sekolah kejuruan (SMK) pada pilihan kedua, bahkan ketiga
sebagai tempat putra-putri mereka menuntut ilmu.
F.
Masyarakat mengubah pandangan
mengenai SMK sebagai second choice beralih pada pandangan ke first choice
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan
oleh pengelola SMK dalam mengubah pandangan masyarakat mengenai SMK sebagai
second choice berubah menjadi first choice yaitu
1. Tentukan ‘Graduates’ Absorbability
Priority-GAP’ menjelang penerimaan siswa baru di awal tahun ajaran. GAP ini
menjelaskan dengan rinci perihal ‘mau diarahkan kemana/ke jenis lapangan
pekerjaan apa’ siswa-siswa kita selepas SMK nanti serta persentase pemenuhan
masing-masing arah/lapangan pekerjaan yang dituju tersebut.
2. Lakukan perubahan yang signifikan
pada sistem rekrutmen siswa baru, mulai dari tahap promosi, pendaftaran hingga
pada tahap seleksi. Tujuannya adalah agar kita bisa memperoleh input yang
memiliki kualitas kemampuan baik dari segi intelektual maupun finansial yang
bisa diandalkan.
a. PROMOSI
Promosi ini adalah salah satu bagian dari proses komunikasi yang kita lakukan terhadap masyarakat luas sebagai stake holder kita agar mereka tahu benar apa yang menjadi kelebihan-kelebihan atau keunggulan dari program-program yang dilaksanakan di SMK.
Promosi ini adalah salah satu bagian dari proses komunikasi yang kita lakukan terhadap masyarakat luas sebagai stake holder kita agar mereka tahu benar apa yang menjadi kelebihan-kelebihan atau keunggulan dari program-program yang dilaksanakan di SMK.
b. PENDAFTARAN SISWA BARU
SMK juga bisa ‘menjemput bola’
melalui rekrutmen siswa baru secara khusus. Bagi anak-anak yang memiliki
kemampuan di atas rata-rata tetapi kemampuan finansialnya tidak begitu
mendukung, bisa saja belajar secara gratis di SMK melalui program subsidi
silang.
c. PROSES SELEKSI
Pada fase ini diharapkan pengelola
SMK tidak hanya menyeleksi kemampuan intelektual dan finasial calon siswa
tetapi juga minat (keinginan dia setelah tamat SMK; mau bekerja atau
melanjutkan studi ke Perguruan tinggi) serta bakat yang dimilki oleh anak
tersebut.
3. Melakukan komunikasi secara
terus-menerus diharapkan pada akhirnya masyarakat akan menyadari bahwa
sesungguhnya bayak sekali kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh SMK dan itu
tidak dimiliki oleh lembaga-lembaga pendidikan lainnya sehingga mereka akan
berkata SMK memang layak menjadi PILIHAN PERTAMA untuk menuntut ilmu.
G.
SMK lebih menjanjikan masa depan
dibanding SMA.
Hal ini disebabkan beberapa faktor
yaitu:
1. Kondisi perekonomian Indonesia yang
belum bagus.
Kenaikan harga BBM ini memicu
kenaikan harga barang dan jasa yang lain. Hal ini menyebabkan beban ekonomi
masyarakat semakin berat. Kondisi tersebut menyebabkan biaya untuk pendidikan
anak semakin susah untuk dipenuhi. Solusi untuk mengatasi keadaan tersebut
adalah dengan menyekolahkan anak di sekolah yang lulusannya cepat dapat kerja
tetapi tidak membutuhkan waktu lama.Sekolah tersebut adalah SMK karena hanya
butuh waktu 3 tahun untuk dapat bekerja atau berwiramandiri. Sementara
jikamengambil sekolah di SMA butuh waktu 8 tahun untuk dapat bekerja yakni 3 tahun
diSMA dan 5 tahun di PT.
2. Banyak lulusan SMA yang tidak
melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi
Kurang dari 10 % lulusan SMA yang
melanjukan kuliah di PT, padahal kurikulum SMA disetting untuk melanjutkan
sekolah di PT. Ini tentu sangat ironis karena hampir 90% tamatan SMA terjun di
dunia kerja padahal kurikulum SMA tidak disiapkan untuk bekerja. Akibatnya
banyak lulusan SMA yang kalah bersaing dalam mencari pekerjaan karena mereka
memang tidak siap kerja.
3. Dunia kerja yang semakin kompetitif
Kondisi sekarang ini meyebabkan para
pencari kerja semakin banyak sementara lowongan kerja semakin sedikit. Sehingga
persaingan dalam memperebutkan lowongan pekerjaan semakin ketat.Untuk itu,
tamatan sekolah menengah kejuruan harus orang yang kompeten di bidangnya dan
siap kerja.
BAB
III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan kejuruan adalah
pendidikan yang diarahkan untuk mempelajari satu bidang khusus agar dapat
mempersiapkan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja.Pendidikan kejuruan
dipandang sebagai second choice karena ketidakmampuan lulusan SMK menempati
posisi yang tinggi disuatu bidang tertentu dan tidak adanya kemampuam promosi
kepada mayarakat.
Pandangan pemerintah pada SMK adalah
jenjang pendidikan yang merupakan sekolah tingkat menengah yang siap kerja,
cerdas, dan kompetitif yang pada akhirnya akan mendukung pertumbuhan ekonomi
Indonesia. Mendiknas mengemukakan, pengembangan SMK harus dipercepat, mengingat
saat ini rasio SMA:SMK adalah 70:30. Sedangakan pandangan masyarakat pada
umumnya masih memposisikan sekolah-sekolah kejuruan (SMK) pada pilihan kedua,
bahkan ketiga sebagai tempat putra-putri mereka menuntut ilmu.
B. Saran
Pandangan masyarakat tentang SMK
sebagai pilihan kedua harus diubah agar masyarakat luas pada umunya menjadikan
SMK sebagai pilihan yang pertama karena dengan bersekolah di SMK lulusan dapat
segera bekerja sesuai dengan dibidangnya masing-masing. Untuk itu, ada beberapa
hal yang perlu dibenahi dalam memajukan SMK yaitu: pengelolaan input SMK baik
dari penerimaan siswa baru sampai dengan mencetak lulusan yang siap kerja serta
kompetitif dalam persaingan mencari pekerjaan dan terlebih dapat menciptakan
lapangan pekerjaan sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
Aryanto,
Fibri. 2012. SMK sebagai Pilihan Masa Depan. (online) file:///F:/SMKsebagaiPilihanMasaDepan.htm
(diakses 25 Juni 2012).
Grengpung.
2012. Revolusi SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). (online)
file:///F:/RevolusiSMK(SekolahMenengahKejuruan).html (diakses 25 Juni 2012).
Hasan,
Bachtiar. Pendidikan Kejuruan Di Indonesia. (online)
pendidikan_kejuruan_di_indonesia.pdf (diakses bulan Juni 2012).
Online
Perbedaan-SMK-dengan-SMA.pdf (diakses bulan Juni 2012).
SMK Patriot Jombang. (online) file:///F:/mengapa-smk-sebagai-pilihan.html (diakses 25 Juni 2012).
SMK Patriot Jombang. (online) file:///F:/mengapa-smk-sebagai-pilihan.html (diakses 25 Juni 2012).
Zarnuji,
Syamsul Aematis. 2006. SMK masih menjadi pilihan kedua atau kelas dua?: sebuah
kajian dari sudut pandang persepsi dan apresiasi masyarakat terhadap pendidikan
kejuruan. (online) file:///F:/smk-masih-menjadi-pilihan-kedua-atau.html diakses
bulan Juni 2012.
Langganan:
Komentar (Atom)